Minggu, 08 Maret 2009

Politisi Indonesia Kebelet Jadi Pemimpin

Dengan berakhirnya zaman orde baru yang tumbang pada tahun 1998, lahirlah apa yang disebut zaman reformasi. Maksudnya tentulah mengembalikan haluan dan arah serta kekuasaan negara pada tangan rakyat.

Era pemerintahan orde baru di bawah tangan rezim Soeharto dengan segala strategi, kelicikan dan pengaruhnya mencoba melanggengkan kekuasaan mungkin sampai hari kiamat, tapi apa mau dikata nafsu serakah Soeharto tersebut terhenti di tahun 1998 di tangan rakyat yang sudah bosan dengan rezim Soeharto.

Sekarang disebut zaman reformasi. Pada zaman ini lahirlah tokoh-tokoh reformis dengan semangat demokrasinya. Tapi sebagaimana banyak digunjingkan bahwa reformasi di Indonesia kebablasan karena ditunggangi oleh nafsu para politisi yang semuanya kebelet jadi pemimpin. Di permulaan zaman khulafahurrasyidin, kepemimpinan dan atau pemimpin akan terlahir secara alami. Tidak ada para sahabat yang kebelet jadi pemimpin, walaupun akhirnya [dimulai dari perebutan kekuasaan pada zaman Ali bin Abi Thalib] semua berlomba juga jadi pemimpin.

Pada zaman awal reformasi kita mengenal 4 tokoh utama yaitu Amin Rais, Gusdur, Megawati dan Sri Sultan. Empat orang tokoh ini kurang lebih nafsunya sama dan sama-sama kebelet jadi pemimpin. Semuanya menyatakan paling siap jadi presiden, paling baik, paling oke dan semuanya sangat berkeinginan jadi presiden. Untuk itu berbagai cara dan strategipun dilakukan, dimulai dengan cara-cara yang santun bahkan juga dengan cara-cara yang tidak santun bahkan dapat dikatakan cara-cara yang licik.

Disamping empat tokoh di atas, sekarang malah semakin banyak yang kebelet jadi presiden. Ada Wiranto, Sutiyoso, Jusuf Kalla, Susilo Bambang Yudoyono, Prabowo, Rizal Ramli, Yudi Krisnadi, Marwah Daud Ibrahim, dll. Yang lucunya lagi malah tidak ada yang berminat jadi wakil presiden. Semuanya mengproklamirkan diri jadi calon presiden, bahkan yang tidak punya basis massa atau partaipun memproklamirkan diri jadi capres, termasuk bung Pajrul yang mencoba memperjuangkan peluang dari jalur independen. Namun sayang jalur independen tersandung keputusan MK, sehingga peluang calon independen pupus sudah.

Satu hal yang perlu mendapat perhatian semua pihak adalah dan saat ini sudah menjadi barang langka yaitu berjiwa besar, bias menerima kekalahan dan mengakui serta memberikan dukungan buat yang menang. Jika lawan politik kita menang dalam pemungutan suara, maka berikanlah dukungan yang bulat semasa kepemimpinan pemenang.

Saat ini yang terjadi adalah sebaliknya. Siapapun yang menang, maka pihak yang kalah akan berupaya menunjukkan dan memojokkan yang menang dalam menjalankan roda pembangunan. Jika ada kesalahan atau kekurang- sempurnaan pemimpin/ presiden terpilih, maka pihak oposan bukannya memberikan saran dengan cara yang santun, akan tetapi dengan sengaja mencari-cari bukti menunjukkan kesalahan tersebut kepada publik bahkan tidak jarang menjadi aktor dibalik demo-demo yang ada dalam rangka menggoyang pemimpin terpilih.

Pada kesempatan ini kami menghimbau kepada para politisi marilah kalian bersikap santun dalam berpolitik dan mendukung siapapun yang menang atau terpilih. Jangan lagi terjadi seperti kisruh pilkada di Malut. Pihak yang kalah harus legowo karena rakyat belum memilih anda.

Membangun negeri ini tidak harus jadi presiden. Kalupun anda tidak atau belum terpilih jadi presiden tetap berikan pikiran dan kontribusi terbaikmu bagi negeri ini. Janganlah mencari-cari cara menunjukkan kejelekan orang lain/ pemenang, karena belum tentu juga anda lebih baik dari calon terpilih dan yang pasti anda belum atau tidak dipilih oleh rakyat. Jangan hanya menggunakan kaca mata pribadi anda akan tetapi suara orang lain adalah cerminan dari diri anda.

Mari membangun negeri tanpa harus jadi pemimpin, tanpa harus kebelet jadi pemimpin. Ketahuilah bahwa nanti di akhirat, orang yang paling menyesal adalah para pemimpin karena banyak yang harus dipertanggungjawabkan di depan pengadilan yang paling adil, yaitu pengadilan Allah.